Independent perspectives on Indonesia

81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi di Bawah Janji yang Menjulang

Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur.

Kalimat itu berdiri tegak di sebuah tiang, menjulang tinggi, diterangi cahaya malam menjelang 81 tahun kemerdekaan Indonesia. Merah putihnya tampak gagah. Angkanya berbicara tentang usia, usia yang panjang bagi sebuah bangsa, usia yang seharusnya cukup untuk belajar dari luka, memperbaiki arah, dan menepati janji kepada mereka yang selama ini diminta untuk terus percaya.

Namun, di bawah kalimat yang begitu megah itu, seorang manusia terbaring di lantai. Di sekitarnya, beberapa kucing pun memilih berbaring. Malam mungkin terlalu panjang untuk dipikirkan, terlalu dingin untuk dipersoalkan, dan terlalu biasa bagi mereka yang telah lama mengenal kerasnya jalanan.

(Credit : Threads @bang_adhy_12)

Cinta yang Tidak Menutup Mata

Bagaimana mungkin mengingkari tanah kelahiran sendiri, tempat bahasa pertama tumbuh dari bibir seorang ibu, tempat lagu kebangsaan pernah membuat dada bergetar? Mencintai Indonesia bukan perkara sulit. Sebab negeri ini bukan sekadar nama di atas peta. Ia adalah kenangan, doa, rumah, dan sebagian dari diri sendiri.

Tetapi mencintai tidak selalu berarti menutup mata. Kadang, justru karena cinta, mata dipaksa untuk tetap terbuka.

Ironi di Bawah Tiang Bendera

Malam itu, sebuah ironi berdiri tanpa perlu berteriak. Di atas sana tertulis tentang kedaulatan, keadilan, dan kemakmuran. Sementara di bawahnya, tubuh manusia terbaring begitu dekat dengan lantai, seakan jarak antara janji dan kenyataan hanya beberapa meter, tetapi terasa sejauh langit dan bumi.

Tidak ada yang tahu siapa dia, dari mana dia datang, apa yang sedang dipikul, atau mengapa malam itu dia berada di sana. Tetapi mungkin, kita tidak perlu mengetahui seluruh riwayat hidup seseorang untuk merasa terusik oleh sebuah pemandangan.

Cukup menjadi manusia. Cukup memiliki nurani.

Kita terlalu sering pandai merayakan angka: menghias gedung dengan bendera, memenuhi jalan dengan spanduk, mengucapkan kemerdekaan dengan suara lantang. Kita mencintai seremoni karena seremoni lebih mudah daripada menatap kenyataan. Lebih mudah mengibarkan bendera daripada memastikan tidak ada rakyat yang kehilangan tempat untuk pulang. Lebih mudah meneriakkan adil dan makmur daripada bertanya: adil untuk siapa, dan makmur bagi siapa?

Angka Boleh Naik, Perut Tidak Kenyang oleh Persentase

Mungkin negeri ini memang sedang berdaulat. Tetapi kedaulatan akan terasa hampa jika rakyat kecil masih harus bernegosiasi dengan lapar, tidur, dan ketidakpastian setiap malam. Mungkin negeri ini memang sedang membangun. Tetapi pembangunan kehilangan maknanya ketika gedung-gedung tumbuh lebih cepat daripada kepedulian.

Angka-angka boleh naik, grafik boleh menanjak, statistik boleh dibuat seindah mungkin. Tetapi perut manusia tidak pernah kenyang oleh persentase, dan tubuh yang kelelahan tidak pernah merasa hangat oleh pidato.

Ini bukan berarti Indonesia tidak memiliki kemajuan. Terlalu tidak adil jika seluruh perjalanan bangsa hanya dilihat dari kegagalannya. Ada banyak hal yang telah diperjuangkan, ada banyak orang baik yang bekerja dalam diam, ada pula mereka yang tetap memilih mengabdi meski tidak pernah masuk sorotan kamera. Tetapi bukankah justru karena kita telah berjalan sejauh ini, kita seharusnya malu jika masih terlalu banyak yang tertinggal?

Kemerdekaan yang Belum Sampai ke Trotoar

Delapan puluh satu tahun bukan usia yang sebentar. Cukup panjang untuk memahami bahwa kemerdekaan bukan hanya tentang lepas dari penjajahan bangsa lain. Kemerdekaan juga seharusnya berarti terbebas dari ketakutan untuk makan esok hari, bebas dari kecemasan karena biaya hidup, bebas dari perasaan menjadi orang asing di negeri sendiri.

Kemerdekaan tidak seharusnya berhenti di podium. Ia harus sampai ke trotoar, sampai ke gang-gang sempit, sampai ke rumah-rumah yang hampir roboh, sampai kepada mereka yang namanya tidak pernah tercatat dalam daftar tamu perayaan, tetapi selalu dicari ketika suara rakyat dibutuhkan dalam pemilihan.

Barangkali, inilah yang paling menyakitkan: negeri ini begitu pandai menciptakan slogan, tetapi belum selalu cukup tekun untuk memastikan slogan itu menjelma menjadi kenyataan. Kata adil begitu indah ketika dicetak besar. Kata makmur begitu gagah ketika dipasang di ruang publik. Tetapi kata-kata, tanpa keberpihakan, hanyalah hiasan. Dan hiasan tidak akan pernah bisa mengenyangkan mereka yang lapar.

Kekecewaan Sebagai Bentuk Cinta yang Tidak Menyerah

Tulisan ini lahir bukan dari kebencian terhadap negeri sendiri, justru sebaliknya. Kekecewaan ini adalah bagian dari cinta yang tidak ingin menyerah. Sebab hanya kepada sesuatu yang kita anggap penting, kita bersedia merasa terluka. Hanya kepada rumah yang kita cintai, kita akan marah ketika melihat atapnya bocor.

Bukan ingin meninggalkan Indonesia dalam kata-kata, melainkan ingin Indonesia yang lebih berani bercermin. Berani mengakui bahwa di balik panggung-panggung kemeriahan, masih ada kesunyian yang tidak terdengar. Di balik baliho dan slogan, masih ada wajah-wajah yang luput dari perhatian. Dan di balik kata makmur, masih ada manusia yang belum benar-benar merasakan kemakmuran itu sebagai miliknya.

Foto malam itu, bagi sebagian orang, mungkin hanya sebuah potret jalanan. Tetapi ia bisa dibaca sebagai pertanyaan: apakah janji yang berdiri begitu tinggi itu pernah benar-benar menunduk untuk melihat mereka yang berada di bawahnya?

Sebab Indonesia yang besar bukanlah Indonesia yang paling banyak memasang slogan tentang kemakmuran. Indonesia yang besar adalah Indonesia yang tidak membiarkan warganya merasa kecil. Dan mungkin, nasionalisme yang paling jujur bukan hanya berdiri tegap saat lagu kebangsaan dimainkan. Kadang, nasionalisme adalah keberanian untuk menunjuk luka dan berkata:

Ini belum selesai.

Karena mencintai Ibu Pertiwi bukan berarti terus-menerus memujinya. Kadang, mencintainya adalah menangis ketika melihat wajahnya terluka. Lalu, setelah air mata itu mengering, tetap tinggal.

Tetap mengingatkan. Tetap mengkritik. Tetap berharap.

Sebab Indonesia bukan sekadar janji yang dicetak di atas tiang. Indonesia adalah mereka yang tidur di bawahnya. Dan selama mereka belum benar-benar merasakan keadilan dan kemakmuran, maka tugas mencintai negeri ini belum selesai.

1 comment for "81 Tahun Kemerdekaan Indonesia: Refleksi di Bawah Janji yang Menjulang"

Read beyond the headlines.

Get new ideas, explainers and perspectives from BIN ENJAH in your reader.