Independent perspectives on Indonesia

Ada Pola di Balik Setiap Gelombang Demo, dan Ini Cara Membacanya

Diagram siklus gerakan sosial, diadaptasi dari Hadiq & Mahdi, INJECT Journal, menggabungkan teori hegemoni Gramsci, perilaku kolektif McPhail, dan mobilisasi Tilly.

Gelombang demonstrasi tidak muncul secara tiba-tiba. Dalam berbagai kajian gerakan sosial, aksi kolektif umumnya berawal dari ketidakpuasan terhadap keadaan atau kebijakan tertentu. Namun, rasa kecewa saja belum cukup. Ketidakpuasan baru berkembang menjadi gerakan sosial ketika dipahami sebagai persoalan bersama, dirumuskan menjadi tuntutan, dan diorganisasi melalui jaringan, kelompok, atau figur penggerak.

Diagram di atas menyederhanakan proses tersebut ke dalam empat bagian: Power/Hegemony, Grievance/Injustice, Movement Organization, dan Resistance. Diagram ini bukan satu teori baku, melainkan alat bantu untuk menghubungkan sejumlah gagasan yang telah lama digunakan dalam kajian gerakan sosial, termasuk hegemoni Antonio Gramsci, perilaku kolektif Clark McPhail, dan mobilisasi Charles Tilly.

Dalam tulisan ini, pola tersebut digunakan untuk membaca hubungan antara kebijakan pemerintah, munculnya rasa ketidakadilan, terbentuknya gerakan sosial, perlawanan di ruang publik, dan respons pemerintah terhadap tekanan masyarakat. Pola ini tidak berarti setiap demonstrasi selalu bergerak melalui tahapan yang sama, tetapi dapat membantu menjelaskan mengapa suatu kekecewaan berkembang menjadi aksi bersama sementara kekecewaan lainnya berhenti sebagai keluhan individual.

Cara membacanya searah jarum jam. Setiap panah menunjukkan hubungan antartahap, bukan sekadar urutan kejadian.

Titik Pertama: Kekuasaan Membangun Cerita yang Terasa Wajar

Kotak pertama, Power/Hegemony, bukan hanya berbicara tentang siapa yang sedang memegang jabatan. Konsep hegemoni dari Antonio Gramsci menjelaskan bagaimana kekuasaan dapat bertahan tidak hanya melalui paksaan terbuka, tetapi juga melalui narasi yang diterima sebagai sesuatu yang wajar sampai sebagian masyarakat berhenti mempertanyakannya.

Pemerintahan Prabowo Subianto membangun narasinya melalui beberapa pilar, seperti program Makan Bergizi Gratis, klaim swasembada pangan, dan berbagai agenda pembangunan ekonomi. Narasi tersebut membentuk gambaran mengenai pemerintah yang aktif bekerja dan memiliki arah kebijakan yang jelas.

Ketika Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mundur secara mendadak dan muncul kekhawatiran mengenai independensi Bank Indonesia, perhatian pemberitaan juga bergerak ke berbagai agenda dan pencapaian pemerintah lainnya. Persoalan tersebut tidak sepenuhnya menghilang, tetapi ditempatkan di tengah narasi pemerintah yang lebih besar.

Titik Kedua: Ketidakpuasan yang Menumpuk di Bawah Permukaan

Panah berikutnya, “leads to”, mengarah ke Grievance/Injustice. Bagian ini menggambarkan munculnya perasaan tidak puas atau tidak adil di balik narasi resmi yang dibangun oleh kekuasaan.

Ketidakpuasan tidak selalu berasal dari satu masalah. Ia dapat muncul dari pengalaman ekonomi, keputusan politik, pelayanan publik, atau ketidakpercayaan terhadap lembaga negara. Berbagai keluhan yang awalnya terpisah dapat bertemu ketika masyarakat menyadari bahwa persoalan mereka memiliki sumber atau sasaran yang sama.

Di Indonesia, ketidakpuasan tersebut muncul dari berbagai arah, mulai dari kenaikan harga BBM nonsubsidi dan kelangkaan BBM subsidi yang disuarakan mahasiswa, kondisi ekonomi, sampai tuntutan reformasi terhadap sejumlah lembaga negara.

Kekecewaan tersebut kemudian memperoleh bentuk yang lebih terstruktur melalui gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat. Gerakan ini menyusun berbagai aspirasi masyarakat menjadi tuntutan jangka pendek dan jangka panjang dengan sasaran serta tenggat waktu yang lebih jelas.

Dokumen tersebut disusun berdasarkan rangkuman 211 tuntutan dari berbagai organisasi dan kelompok masyarakat. Delapan tuntutan jangka panjangnya mencakup reformasi DPR, reformasi partai politik, reformasi perpajakan, pengesahan RUU Perampasan Aset, reformasi kepolisian, pengembalian penuh TNI ke barak, penguatan Komnas HAM, serta evaluasi kebijakan ekonomi.

Keberadaan tuntutan yang jelas menunjukkan bahwa ketidakpuasan telah bergerak dari perasaan individual menjadi kesadaran mengenai persoalan bersama. Pada tahap ini, masyarakat tidak hanya merasa kecewa, tetapi mulai menentukan perubahan apa yang mereka inginkan dari pemerintah.

Titik Ketiga: Ketidakpuasan Mencari Bentuk

Panah “activates” membawa kita dari Grievance/Injustice menuju Movement Organization. Namun, rasa kecewa tidak otomatis melahirkan gerakan sosial. Ketidakpuasan baru berubah menjadi gerakan ketika masyarakat menyadari bahwa persoalan yang mereka alami bukan kasus individual, melainkan masalah bersama yang berkaitan dengan kebijakan atau tindakan pemerintah.

Kesadaran tersebut kemudian dipertemukan melalui tuntutan bersama, jaringan organisasi, figur penggerak, dan ruang komunikasi. Unsur-unsur inilah yang memungkinkan masyarakat mengubah keluhan menjadi agenda, menentukan sasaran, mengumpulkan dukungan, serta menyusun aksi untuk mendorong pemerintah memberikan respons.

Di Indonesia, proses tersebut terlihat ketika berbagai keluhan mengenai harga BBM, kondisi ekonomi, reformasi kelembagaan, dan perlindungan hak warga dirangkum menjadi tuntutan yang lebih terorganisasi. Gerakan 17+8, aksi mahasiswa, dan konsolidasi kelompok buruh memperlihatkan bagaimana kekecewaan yang awalnya tersebar memperoleh nama, agenda, target, dan saluran untuk disampaikan kepada pemerintah.

Meskipun demikian, kelompok-kelompok yang membawa kekecewaan tersebut tidak selalu memilih strategi yang sama. Said Iqbal, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, memastikan tidak ada aksi buruh besar pada Agustus–September 2026.

Sementara itu, Koalisi Besar Perjuangan Buruh Indonesia sempat merencanakan aksi lalu menundanya karena khawatir ada kelompok lain yang menumpang dan memanfaatkan situasi.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa gerakan sosial bukan satu kelompok yang selalu bergerak dalam satu komando. Sebagian kelompok memilih jalur dialog dan kelembagaan, sedangkan kelompok lain menggunakan demonstrasi sebagai alat untuk menekan pemerintah. Keduanya dapat membawa tuntutan yang serupa meskipun menggunakan strategi yang berbeda.

Titik Keempat: Perlawanan Terlihat di Ruang Publik

Panah “results in” membawa kita menuju Resistance. Pada tahap ini, ketidakpuasan yang telah diorganisasi berubah menjadi tindakan yang terlihat di ruang publik. Bentuknya dapat berupa demonstrasi, kampanye, petisi, audiensi, mogok kerja, atau tekanan politik melalui berbagai saluran.

Dalam rangkaian unjuk rasa pada akhir Agustus 2026, sebagian aksi berujung pada kerusuhan. Polisi mengklasifikasikan pihak-pihak yang diperiksa ke dalam enam klaster.

Sebanyak 153 anak di bawah umur diserahkan kepada unit yang menangani perlindungan anak dan perdagangan orang. Polisi juga memeriksa 91 orang dalam kelompok perusuh, 71 orang terkait perusakan dan penganiayaan, serta tiga orang karena membawa senjata tajam. Sebanyak 45 orang ditetapkan sebagai tersangka, sedangkan dua klaster lainnya mencakup pihak yang diduga menjadi penggerak, pembiaya, dan perekrut massa.

Bambang Setiawan meninggal dalam rangkaian peristiwa tersebut. Ketika kasus itu diberitakan, pihak yang bertanggung jawab masih berada dalam proses penyelidikan. Peristiwa ini memperlihatkan bahwa perlawanan di ruang publik dapat berkembang ke arah yang tidak sepenuhnya dikendalikan oleh kelompok yang membawa tuntutan awal.

Panah Terakhir yang Paling Sering Dilewatkan

Bagian yang sering dilewatkan adalah panah “overcome by” yang menghubungkan Resistance kembali ke Power/Hegemony. Panah ini tidak selalu berarti gerakannya kalah atau seluruh tuntutannya hilang. Ia menunjukkan bagaimana kekuasaan berusaha menyerap, mengendalikan, atau merespons tekanan agar keadaan kembali stabil.

Respons tersebut dapat dilakukan melalui beberapa cara. Pemerintah dapat memberikan konsesi, membuka dialog, memproses sebagian tuntutan, menggunakan mekanisme hukum, atau membangun narasi baru untuk memengaruhi cara masyarakat memahami suatu peristiwa.

Dalam kasus demonstrasi akhir Agustus, jalur pertama terlihat melalui proses hukum terhadap pihak-pihak yang diduga terlibat dalam kerusuhan. Jalur kedua berlangsung melalui pengelolaan informasi di ruang digital.

Kementerian Komunikasi dan Digital menemukan video demonstrasi lama atau hasil editan beredar kembali tanpa keterangan waktu dan konteks kejadian. Materi lama tersebut dapat dipersepsikan sebagai peristiwa baru dan membentuk gambaran yang berbeda dari keadaan sebenarnya.

Sebagian unggahan juga disertai narasi bahwa aksi besar tidak diberitakan atau kontennya dihapus. Karena itu, persaingan antara gerakan sosial dan kekuasaan tidak hanya berlangsung di jalan, tetapi juga melalui perebutan makna, perhatian, dan kepercayaan publik di ruang digital.

Kenapa Lingkaran Ini Belum Benar-Benar Tertutup

Kasus Indonesia menunjukkan bahwa panah “overcome by” dapat bekerja secara parsial, bukan sepenuhnya. Situasi di ruang publik mungkin kembali stabil, tetapi penyebab ketidakpuasan belum tentu selesai. Ketika tuntutan belum dipenuhi, kekecewaan dapat tetap bertahan dan menjadi bahan bagi terbentuknya gerakan berikutnya.

Berdasarkan pemantauan independen Bijak Memantau yang diakses pada 12 September 2026, hanya tiga dari delapan tuntutan jangka panjang yang telah masuk tahap proses, yaitu reformasi DPR, reformasi perpajakan, dan pembahasan RUU Perampasan Aset. Lima tuntutan lainnya masih berstatus belum diproses.

Jika dipetakan ke dalam diagram, kekuasaan baru berhasil menutup sebagian lingkaran. Stabilitas mungkin telah kembali, tetapi persoalan yang melahirkan ketidakpuasan belum seluruhnya diselesaikan. Selama jarak antara tuntutan masyarakat dan respons pemerintah masih ada, kemungkinan munculnya siklus gerakan sosial berikutnya tetap terbuka.

Diagram ini pada akhirnya membantu kita memahami bahwa demonstrasi bukan peristiwa yang berdiri sendiri. Di belakangnya terdapat rangkaian proses yang menghubungkan kebijakan, pengalaman ketidakadilan, kesadaran bersama, pengorganisasian, perlawanan, dan respons pemerintah.

Apa itu diagram siklus gerakan sosial?

Diagram ini merupakan alat bantu untuk membaca hubungan antara kekuasaan, ketidakpuasan, pengorganisasian gerakan, dan perlawanan. Kerangka tersebut merangkum sejumlah gagasan yang telah lama digunakan dalam kajian gerakan sosial dan tidak berasal dari satu penulis atau satu penelitian saja.

Bagaimana kekecewaan berubah menjadi gerakan sosial?

Kekecewaan berubah menjadi gerakan sosial ketika dipahami sebagai masalah bersama, dirumuskan menjadi tuntutan, memperoleh dukungan, dan diorganisasi melalui kelompok, jaringan, atau figur penggerak untuk mendorong perubahan.

Apa arti panah “overcome by” dalam diagram?

Panah tersebut menunjukkan bagaimana kekuasaan merespons atau menyerap tekanan dari gerakan sosial melalui konsesi, dialog, proses hukum, kebijakan, atau pengelolaan narasi untuk mengembalikan stabilitas.

Apa keterbatasan diagram ini?

Diagram ini menyederhanakan proses politik yang sebenarnya tidak selalu bergerak secara linear. Satu gerakan dapat mengalami beberapa tahap secara bersamaan, terpecah menjadi kelompok dengan strategi berbeda, atau berhenti tanpa menghasilkan keseimbangan baru.

Apakah semua demonstrasi mengikuti siklus yang sama?

Tidak selalu. Diagram ini merupakan alat analisis, bukan rumus yang pasti. Hasilnya tetap bergantung pada konteks, tuntutan, kekuatan organisasi, respons pemerintah, dan kondisi politik dalam setiap kasus.

Post a Comment for "Ada Pola di Balik Setiap Gelombang Demo, dan Ini Cara Membacanya"

Read beyond the headlines.

Get new ideas, explainers and perspectives from BIN ENJAH in your reader.