Guterres dan Trump di UNGA 81: Bagaimana Dua Pidato Membingkai Makna Keamanan?
Pada 22 September 2026, panggung pembukaan debat umum Majelis Umum PBB memperlihatkan dua cara berbeda dalam menjawab satu pertanyaan: apa yang membuat dunia menjadi aman? Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berbicara pada forum yang sama, tetapi memberikan titik tekan berbeda ketika menjelaskan keamanan, kekuasaan, dan cara negara menghadapi dunia yang semakin tidak stabil. Associated Press melaporkan perbedaan penekanan tersebut dalam pidato keduanya pada pembukaan UNGA ke-81.
Pertanyaannya sederhana tetapi penting: apa yang berubah ketika keamanan dibingkai sebagai kerja bersama atau sebagai kekuatan negara? Untuk menjawabnya, kita dapat melihat pilihan kata, aktor yang ditonjolkan, serta solusi yang ditawarkan dalam dua pidato pada hari yang sama.
| Ilustrasi AI - Dua cara membingkai keamanan global dalam pidato António Guterres dan Donald Trump pada UNGA 81: kerja sama multilateral dan kedaulatan nasional. |
Dua pidato, satu panggung, dua titik berangkat
Pidato Guterres berangkat dari gagasan bahwa berbagai krisis global saling berkaitan. Dalam pidatonya, ia menggambarkan perang, ketimpangan ekonomi, perubahan iklim, dan perkembangan kecerdasan buatan sebagai bagian dari persoalan yang lebih besar mengenai bagaimana kekuasaan digunakan dan siapa yang memilikinya.
Dalam transkrip resmi PBB, Guterres memperingatkan bahwa kekuatan militer saja tidak cukup untuk menciptakan perdamaian, kekuatan ekonomi saja tidak dapat menjamin stabilitas, dan kekuatan teknologi saja tidak dapat memastikan keamanan.
Trump menggunakan titik tekan yang berbeda. Dalam pidatonya, keamanan lebih banyak dikaitkan dengan kemampuan negara mempertahankan kepentingan dan kedaulatannya serta kemampuan Amerika Serikat untuk bertindak berdasarkan kekuatannya sendiri.
Perbedaan tersebut tidak berarti bahwa kedua pidato membicarakan dua dunia yang sepenuhnya terpisah. Keduanya tetap membahas konflik, keamanan, perubahan global, dan peran negara. Perbedaannya terutama terlihat pada cara masalah didefinisikan dan mekanisme yang dianggap penting untuk menghadapinya.
Bagian pertama: keamanan didefinisikan sebagai apa?
Dalam pidato Guterres, keamanan tidak ditempatkan hanya sebagai kemampuan suatu negara untuk mempertahankan wilayah atau kepentingannya. Ia menghubungkannya dengan hukum internasional, kerja sama, stabilitas ekonomi, perlindungan warga sipil, iklim, dan tata kelola teknologi.
Guterres juga menjadikan empat persoalan besar—perang dan perdamaian, ketimpangan, perubahan iklim, serta kecerdasan buatan—sebagai ujian mengenai bagaimana kekuasaan digunakan. Dengan kerangka tersebut, keamanan menjadi persoalan sistem, bukan hanya persoalan kemampuan militer suatu negara.
Trump memberikan titik tekan yang berbeda. Keamanan lebih dekat dengan kedaulatan, kekuatan nasional, dan kemampuan sebuah negara untuk mengambil tindakan sendiri. Amerika Serikat ditempatkan sebagai aktor yang memiliki kapasitas untuk melindungi kepentingannya berdasarkan kekuatan nasionalnya.
Di sinilah framing menjadi penting. Dua pembicara dapat menggunakan kata yang sama—keamanan—tetapi mengisinya dengan hubungan sebab-akibat yang berbeda.
Bagian kedua: siapa yang dianggap punya kekuatan untuk bertindak?
Guterres menempatkan lembaga multilateral sebagai bagian penting dari jawaban. Ia menyerukan sistem internasional yang berpusat pada PBB, hukum internasional, dan lembaga yang lebih representatif.
Ia juga menghubungkan persoalan keamanan dengan reformasi Dewan Keamanan serta keterwakilan negara-negara yang selama ini memiliki pengaruh lebih terbatas dalam struktur pengambilan keputusan internasional.
Sebaliknya, framing Trump lebih menonjolkan negara sebagai aktor utama. Amerika Serikat diposisikan sebagai negara yang memiliki kapasitas untuk bertindak dan menggunakan kekuatannya ketika diperlukan.
Perbedaan ini dapat diringkas sebagai berikut:
| Aspek | Guterres | Trump |
|---|---|---|
| Definisi keamanan | Keamanan terkait dengan perdamaian, hukum, stabilitas, iklim, ketimpangan, dan teknologi. | Keamanan lebih banyak dikaitkan dengan kekuatan, kedaulatan, dan kemampuan negara bertindak. |
| Aktor utama | Sistem multilateral dan negara-negara dalam kerangka kerja sama internasional. | Negara berdaulat, dengan penekanan khusus pada kemampuan Amerika Serikat. |
| Masalah utama | Perang, ketimpangan, iklim, AI, dan tata kelola kekuasaan. | Ancaman terhadap kepentingan, kedaulatan, dan keamanan nasional. |
| Solusi | Kerja sama, hukum internasional, dialog, dan reformasi institusi. | Kekuatan nasional, tindakan negara, dan perlindungan kepentingan nasional. |
Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan utama bukan hanya pada pilihan kata, tetapi pada siapa yang ditempatkan sebagai aktor utama dan bagaimana keamanan seharusnya dikelola.
Bagian ketiga: solusi keamanan ditawarkan melalui mekanisme apa?
Perbedaan framing semakin terlihat ketika kedua pidato berbicara tentang solusi.
Guterres mendorong de-eskalasi, dialog, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan, akuntabilitas, dan penguatan sistem multilateral. Dalam isu AI, misalnya, ia menyerukan kerangka manajemen risiko AI yang bersifat multilateral dan pengawasan independen.
Pendekatan tersebut menempatkan keamanan sebagai sesuatu yang harus dikelola bersama karena dampaknya dapat melewati batas negara.
Trump, di sisi lain, menekankan tindakan dan kemampuan negara. Dalam pidatonya, ia menghubungkan kepemimpinan Amerika dengan tindakan konkret dan kekuatan nasional, bukan semata-mata dengan komitmen terhadap lembaga internasional.
Perbedaan mekanisme ini penting karena pilihan solusi sekaligus menentukan siapa yang memperoleh ruang untuk mengambil keputusan.
Mengapa perbedaan framing penting bagi pembaca?
Pidato politik internasional sering kali diberitakan melalui beberapa kalimat yang dianggap paling menarik. Akibatnya, pembaca dapat memperoleh kesan bahwa sebuah pidato hanya berisi satu gagasan utama, padahal struktur pidatonya jauh lebih kompleks.
Dalam kasus Guterres dan Trump, potongan pidato yang menekankan kerja sama atau kekuatan nasional dapat terlihat bertentangan secara langsung. Namun, membaca konteks lengkap menunjukkan bahwa keduanya sedang menjelaskan persoalan keamanan dari kerangka kelembagaan dan politik yang berbeda.
Karena itu, membaca framing berarti tidak hanya bertanya “apa yang dikatakan?”, tetapi juga: siapa yang ditampilkan sebagai aktor, masalah apa yang dianggap paling penting, dan mekanisme apa yang ditawarkan sebagai jalan keluar?
Satu kata yang menghubungkan keduanya: kekuasaan
Menariknya, meskipun pendekatan keduanya berbeda, ada satu konsep yang justru menghubungkan kedua pidato tersebut: kekuasaan.
Guterres secara eksplisit menjadikan persoalan kekuasaan sebagai benang merah pidatonya. Ringkasan resmi PBB menyebut empat ujian besar dunia saat ini sebagai persoalan mengenai bagaimana kekuasaan digunakan.
Perbedaannya terletak pada pertanyaan lanjutan. Guterres menekankan bagaimana kekuasaan harus dibatasi oleh hukum dan kerja sama, sedangkan pidato Trump lebih menekankan kemampuan negara menggunakan kekuatannya sendiri untuk mempertahankan kepentingannya.
Dengan demikian, perbedaan framing bukan sekadar perbedaan gaya bahasa. Ia memengaruhi cara pendengar memahami sumber ancaman dan siapa yang dianggap memiliki kewenangan untuk meresponsnya.
Ketika bahasa keamanan menentukan cara kita membaca dunia
Bahasa politik tidak hanya menggambarkan realitas. Bahasa juga membantu menentukan bagian mana dari realitas yang menjadi perhatian publik.
Jika keamanan dibingkai sebagai kerja sama, perhatian pembaca akan lebih mudah diarahkan kepada institusi internasional, hukum, diplomasi, dan koordinasi antarnegara.
Jika keamanan dibingkai sebagai kekuatan nasional, perhatian lebih mudah diarahkan kepada kapasitas negara, kedaulatan, kepentingan nasional, dan kemampuan sebuah negara untuk bertindak secara mandiri.
Tidak berarti salah satu framing otomatis menghapus realitas yang lain. Negara memang memiliki kepentingan nasional, sementara persoalan seperti perubahan iklim, perang, migrasi, dan AI juga memiliki dampak lintas batas.
Justru karena itulah pembaca perlu membedakan antara isi pidato dan framing pidato. Isi menjelaskan apa yang dikatakan. Framing membantu kita melihat bagaimana sebuah persoalan disusun sehingga tampak penting dengan cara tertentu.
Kesimpulan: keamanan juga merupakan pertanyaan tentang siapa yang memegang kendali
Pidato António Guterres dan Donald Trump pada UNGA 81 memperlihatkan dua kerangka berbeda dalam membicarakan keamanan global.
Guterres menempatkan keamanan dalam kerangka kerja sama multilateral, hukum internasional, dan pengelolaan berbagai bentuk kekuasaan. Trump lebih menonjolkan kedaulatan, kekuatan nasional, dan kemampuan Amerika Serikat untuk bertindak.
Perbedaan tersebut membuat satu pertanyaan menjadi penting bagi pembaca: ketika seorang pemimpin berbicara tentang keamanan, siapa yang sebenarnya ia tempatkan sebagai pihak yang harus menentukan masa depan?
Membaca pidato melalui pertanyaan tersebut membantu kita melihat bahwa berita internasional tidak hanya berisi pernyataan para pemimpin. Ada pilihan kata, aktor, masalah, dan solusi yang membentuk cara sebuah peristiwa dipahami.
Pertanyaan Umum
Apakah Guterres dan Trump membahas isu yang sama?
Keduanya membahas keamanan dan berbagai persoalan global dalam forum yang sama, tetapi memberikan penekanan yang berbeda mengenai sumber masalah, aktor yang berperan, dan mekanisme penyelesaian.
Apa yang dimaksud framing dalam konteks pidato politik?
Framing adalah cara suatu isu disusun dan ditekankan melalui pilihan masalah, aktor, bahasa, dan solusi sehingga audiens melihat persoalan dari sudut tertentu.
Mengapa pembaca perlu melihat transkrip lengkap?
Karena potongan pernyataan yang beredar di media dapat menghilangkan konteks. Transkrip lengkap membantu melihat hubungan antara pernyataan, argumen, dan solusi yang ditawarkan dalam keseluruhan pidato.
Post a Comment for "Guterres dan Trump di UNGA 81: Bagaimana Dua Pidato Membingkai Makna Keamanan?"